Metodologi Ilmu
Pengertian Metodologi Ilmu
Secara harfiah
istilah Metodologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “metodos” dan “logos”.
Kemudian kata “metodos” terdiri atas 2 suku kata yakni “metha”
yang artinya melewati atau melalui “hodos” yang artinya cara atau
jalan.
Metode artinya
sebuah jalan yang dilewati untuk mencapai tujuan. Sedangkan “logos”
berarti ilmu. Jadi Metodologi adalah cara atau ilmu-ilmu yang dipakai untuk
menemukan kebenaran menggunakan penelusuran dengan tata cara tertentu dalam
menemukan kebenaran, tergantung dari realitas apa yang dikaji.
Lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi modern saat ini, berasal dari dibangkitkannya kembali tradisi-tradisi dan peradaban Yunani Kuno. Lima periode pembagian sejarah perkembangan filsafat dan ilmu oleh Hull, semenjak Yunani Kuno sampai sekarang menimbulkan pertentangan hebat terutama tentang kebermanfaatan ilmu itu sendiri. Antara penguasa dengan para sarjana, sarjana dengan rakyat biasa (tentang tanggung jawab sosial ilmuwan), atau antara sarjana dengan sarjana sendiri.
Peran
inteletual Islam dalam perkembangan ilmu dan filsafat adalah jembatan
penghubung antara tradisi Yunani Kuno dengan ilmu pengetahuan modern saat ini.
Akan tetapi, nampaknya sains modern sudah menjadi “agama” baru yang
relatif menafikan sisi-sisi normalitas, karena sifatnya yang materiaslitik.
Problem dan Kisis Sains Modern
The Islamic Worldview Sebagai Metodologi Ilmu
Islamic
worldview adalah bagaimana Islam memandang realita. Realita ini tidak terbatas
pada dunia melainkan mencakup semua yang ada baik itu bisa diindera maupun
tidak (ghaib). Ia termasuk pada konsep ‘nyata’, siapa itu Allah, siapa itu
‘manusia’, dan lain sebagainya, dan buntutnya akan panjang.
Seringkali dua orang hidup di alam yang sama tapi masing-masingnya memandang realita dengan cara yang berbeda sehingga makna hidup mereka berbeda dan keputusan dalam menjalani hidup adalah berbeda.
Memiliki
Islamic worldview maknanya adalah ‘hidup dengan pandangan terhadap realita
sebagaimana diajarkan oleh Islam. Seorang Muslim tidaklah akan mengatakan bahwa
kalau Islam berpandangan begini, kalau Atheist berpandangan begitu, itu adalah
pandangan masing-masing. Sebab, hakikat realitas itu tidaklah bergantung pada
pemikiran manusia karena manusia bukanlah yang menciptakan realitas, walaupun
mungkin saja ia memandang realitas dengan berbeda-beda.
Seorang
muslim akan mengatakan bahwa apa yang dijelaskan oleh Islam melalui Qur’an dan
Sunnah tentang realita itulah yang merupakan pandangan yang sebenarnya terhadap
hakikat realitas itu sendiri. Allah itu ada, Firman-Nya itu ada, maut itu ada,
alam kubur itu ada, hari kiamat itu ada, pengadilan Allah itu ada, Surga dan
Neraka itu ada. Maka pertanyaannya: apakah kita mau menerimanya (berserah diri
terhadapnya, atau ber-Islam) atau mau mengingkarinya (kafir).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar