Rabu, 21 Juli 2021

Integrasi Ilmu Dalam Konsep Berpikir


Konsep Berpikir

Berpikir memiliki arti yaitu menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu, menimbang-nimbang dalam ingatan. Berpikir merupakan fungsi jiwa yang mengandung pengertian yang luas, karena mengandung maksud dan tujuan untuk memecahkan masalah sehingga menemukan hubungan dan menentukan sangkut paut antara masalah yang satu dengan yang lainnya.

Prinsip Dasar Berpikir Dalam Filsafat Dakwah Yang Dapat Diturunkan Dari Al-Qur'an

  • Berpegang teguh pada etika ulul al-bab. Sosok ulul al- bab adalah orang yang mampu menggunakan potensi pikir dan  potensi dzikir secara tawazun (seimbang).
  • Memikirkan, memahami, menghayati dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah sebagai objek pikir, baik ayat kauniyah dan segala hukumnya (realitas alam dan hukum alam) maupun ayat-ayat Qur'aniyah melalui petunjuk dan isyarat ayat-ayat al - Qur'an tentang "aql yang terdiri dari 49 kali penyebutan dalam lima bentuk kata kerja: (a) 'aqaluh; (b) ta'qilun; (c) na'qilu; (d) ya'qiluha; (d) ya'qilun.


Metode Berpikir (Al-Fikr) Menurut Al-Qur'an

A. Berpikir dengan Hati yang Bersih

Alquran memerintahkan manusia untuk berpikir bukan hanya dengan akalnya yang cerdas namun juga harus diiringi oleh hati yang bersih. Seperti halnya pada surah Al-Mudaṡṡir ayat 18 menceritakan Al-Walid Al-Mugirah seorang yang pandai yang ditunjuk kaumnya. Dan yang kedua pada surah Al-Araf ayat 176 ayat ini mengecam orang yang memperturut nafsu dan syahwatnya padahal Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang yang menjauhinya.

B. Berpikir dengan Rasio/Logika

Dalam Alquran berpikir dengan akal logika saja tidaklah cukup, akal juga memiliki keterbatasan sehingga membutuhkan tuntunan langsung dari Allah berupa wahyu yang disampaikan pada seorang Rasul-Nya. Dalam surah Al-Araf ayat 184 Al-Qur’an mengajak berpikir dengan benar melakukan pengecekan dan penelaahan kembali dengan akal yang baik mengenai Nabi Muhammad Saw. Kemudian dalam surah Al-An’am ayat 50 peneliti menemukan bahwa apa yang diajarkan Rasulullah saw tersebut didasarkan pada wahyu. Al-Qur’an membedakan orang yang mampu menangkap kebenaran wahyu dengan yang tidak.

C. Berpikir Luas dengan Cara yang Sederhana agar Mudah Dipahami

Tidak sedikit ayat-ayat Alquran mengenai berpikir menggunakan pendekatan perumpamaan (amtsal) agar lebih sederhana dan mudah dipahami. Misalnya dalam surah Yūnus ayat 24 memperumpamakan kehidupan dunia yang indah ini ibarat kebun yang indah namun tiba-tiba menghilang seolah-olah tidak pernah ada.

D. Terbuka dengan Pemikiran Orang Lain

Alquran memerintahkan manusia untuk berpikir dengan baik dan memiliki sifat keterbukaan untuk mendapatkan kebenaran. Dalam surah Saba’ ayat 46 Allah Swt memerintahkan manusia untuk terbuka menerima pendapat orang lain dengan cara saling berdialog dan berdiskusi memikirkan bersama-sama mengenai kebenaran ajaran yang dibawa Rasul Allah.


Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi

1. Ontologi

Ontologi, secara bahasa Yunani terdiri dari dua kata; on: being, dan logos; Logic. Jadi ontologi ialah The theory of being qua being atau teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Sementara menurut istilah ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.

Ontologi merupakan pembahasan dalam rangka untuk mencari atau mendapatkan hakekat sesuatu. Sering orang mempertanyakan kembali ‘sesuatu’ apa? atau ‘sesuatu’ yang manakah? yaitu sesuatu apa saja, baik berbentuk benda materi atau non-materi atau sering disebut dengan istilah abstrak.

2. Epistemologi

Epistemologi adalah cara mendapatkan pengetahuan yang benar, karena epistemologi itu adalah teori pengetahuan, tidak lain dan tidak bukan merupakan kelanjutan yang tak terpisahkan dari ontologi seperti yang telah dijelaskan di atas. Tanpa pemahaman yang utuh tentang ontologi dari ‘suatu hakekat’, mustahil kita akan dapat memahami dan menjawab dari pertanyaan “apa” yang sedang kita cari jawabannya.

Proses pencarian epistemology atau teori suatu pengetahuan yang sedang kita amati dan kita cari, biasanya didasarkan atas pertimbangan sikap skeptis, karena dengan sikap ragu itulah orang mencari tahu tentang berbagai hal yang melingkupinya. Maka dari sinilah kemudian lahir berbagai pengetahuan baru yang tergali tentang sesuatu tersebut.

 3. Aksiologi

Secara bahasa aksiologi berasal dari perkataan Axios (bahasa Yunani) yang berarti nilai, dan kata Logos yang berarti; teori, jadi aksiologi mengandung pengertian ; teori tentang nilai. Sementara secara umum aksiologi dapat diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh oleh manusia, dengan sendirinya dapat dikategorikan akan memberi manfaat dan berguna ataukah sebaliknya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Integrasi Ilmu Dalam Hidup Bermasyarakat Dan Berkebudayaan Konsep Hidup Bermasyarakat Dan Berkebudayaan Dalam perspektif Islam, konsep dalam...