Integrasi Ilmu Dalam Konsep Berpikir
Konsep Berpikir
Prinsip Dasar Berpikir Dalam Filsafat Dakwah Yang Dapat Diturunkan Dari Al-Qur'an
- Berpegang teguh pada etika ulul al-bab. Sosok ulul al- bab adalah orang yang mampu menggunakan potensi pikir dan potensi dzikir secara tawazun (seimbang).
- Memikirkan, memahami, menghayati dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah sebagai objek pikir, baik ayat kauniyah dan segala hukumnya (realitas alam dan hukum alam) maupun ayat-ayat Qur'aniyah melalui petunjuk dan isyarat ayat-ayat al - Qur'an tentang "aql yang terdiri dari 49 kali penyebutan dalam lima bentuk kata kerja: (a) 'aqaluh; (b) ta'qilun; (c) na'qilu; (d) ya'qiluha; (d) ya'qilun.
Metode Berpikir (Al-Fikr) Menurut Al-Qur'an
A. Berpikir dengan Hati yang Bersih
Alquran memerintahkan manusia untuk berpikir bukan hanya dengan akalnya yang cerdas namun juga harus diiringi oleh hati yang bersih. Seperti halnya pada surah Al-Mudaṡṡir ayat 18 menceritakan Al-Walid Al-Mugirah seorang yang pandai yang ditunjuk kaumnya. Dan yang kedua pada surah Al-Araf ayat 176 ayat ini mengecam orang yang memperturut nafsu dan syahwatnya padahal Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang yang menjauhinya.
B. Berpikir dengan Rasio/Logika
Dalam Alquran berpikir dengan akal logika saja
tidaklah cukup, akal juga memiliki keterbatasan sehingga membutuhkan tuntunan
langsung dari Allah berupa wahyu yang disampaikan pada seorang Rasul-Nya. Dalam
surah Al-Araf ayat 184 Al-Qur’an mengajak berpikir dengan benar melakukan
pengecekan dan penelaahan kembali dengan akal yang baik mengenai Nabi Muhammad
Saw. Kemudian dalam surah Al-An’am ayat 50 peneliti menemukan bahwa apa yang
diajarkan Rasulullah saw tersebut didasarkan pada wahyu. Al-Qur’an membedakan
orang yang mampu menangkap kebenaran wahyu dengan yang tidak.
C. Berpikir Luas dengan Cara yang Sederhana agar Mudah Dipahami
D. Terbuka dengan Pemikiran Orang Lain
Alquran memerintahkan manusia untuk berpikir
dengan baik dan memiliki sifat keterbukaan untuk mendapatkan kebenaran. Dalam
surah Saba’ ayat 46 Allah Swt memerintahkan manusia untuk terbuka menerima
pendapat orang lain dengan cara saling berdialog dan berdiskusi memikirkan
bersama-sama mengenai kebenaran ajaran yang dibawa Rasul Allah.
Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi
1. Ontologi
Ontologi, secara bahasa Yunani terdiri dari dua
kata; on: being, dan logos; Logic. Jadi ontologi
ialah The theory of being qua being atau teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan. Sementara menurut istilah ontologi ialah ilmu yang membahas tentang
hakikat yang ada, berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.
Ontologi merupakan pembahasan dalam rangka
untuk mencari atau mendapatkan hakekat sesuatu. Sering orang mempertanyakan
kembali ‘sesuatu’ apa? atau ‘sesuatu’ yang manakah? yaitu sesuatu apa saja,
baik berbentuk benda materi atau non-materi atau sering disebut dengan istilah
abstrak.
2. Epistemologi
Epistemologi adalah cara mendapatkan pengetahuan yang benar, karena
epistemologi itu adalah teori pengetahuan, tidak lain dan tidak bukan merupakan
kelanjutan yang tak terpisahkan dari ontologi seperti yang telah dijelaskan di
atas. Tanpa pemahaman yang utuh tentang ontologi dari ‘suatu hakekat’, mustahil
kita akan dapat memahami dan menjawab dari pertanyaan “apa” yang sedang kita
cari jawabannya.
Proses pencarian epistemology atau teori suatu pengetahuan yang sedang kita
amati dan kita cari, biasanya didasarkan atas pertimbangan sikap skeptis,
karena dengan sikap ragu itulah orang mencari tahu tentang berbagai hal yang
melingkupinya. Maka
dari sinilah kemudian lahir berbagai pengetahuan baru yang tergali tentang
sesuatu tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar